Boven Digoel, Tujuan Wisata Sejarah Terbaru yang Anti-Mainstream

Wilayah Indonesia timur, khususnya Provinsi Papua, dikenal sebagai kawasan yang masih perawan. Perairan yang masih bersih dan barisan hutan yang belum terjamah belakangan muncul menjadi tujuan wisata yang menarik bagi para petualang.

Tetapi berwisata Papua tidak melulu soal laut dan hutan. Belakangan, Provinsi Papua berhasil menarik hati para pelancong dengan dibangunnya Monumen Kapsul Waktu di Merauke. Meskipun belum jelas kapan monumen ini akan dibuka, tetapi warganet sudah menunjukan keinginan berkunjung.

Selain itu, Provinsi Papua juga memiliki tujuan wisata sejarah yang tak kalah seru. Kabupaten Boven Dogoel yang terletak di sebelah tenggara Papua Barat dan berbatasan langsung dengan Papua Nugini merupakan salah satunya.

Melansir Kumparan.com, Jumat (23/8/2019), pemerintah daerah Kabupaten Boven Digoel sangat ingin mengembangkan kawasan yang cenderung dilupakan ini menjadi tujuan wisata sejarah terbaru yang anti-mainstream.

“Sehingga saat kami diberikan kepercayaan menjabat kita diberi kesempatan bagaimana mengembangkan Boven Digoel sebagai situs wisata sejarah. Kini sedang dibangun dan saya belum bisa cerita lebih banyak, tapi yakin ini langkah yang tepat,” kata Bupati Boven Digoel Benediktus Tambonop.

Tambonop menjelaskan, saat ini akses transportasi ke Boven Digoel lebih mudah dijangkau. Sebelumnya, dibutuh waktu 2 hari perjalanan dari Jakarta menuju Digoel. Pemerintah dikabarkan sudah menambah jumlah pesawat sehingga setiap hari ada perjalanan udara menuju kawasan yang terletak di tepi Sungai Digoel Hilir, Tanah Papua bagian selatan ini.

Kota Bersejarah

Boven Digoel beribu kota di Tanah Merah. Dulunya kota ini merupakan koloni orang-orang buangan pemerintah kolonial Belanda. Tidak sedikit perjuang-pejuang dari masa pergerakan yang diasingkan ke kota ini.

Seperti diwartakan Kompas.com, di kota tersebut terdapat kompeks penjara yang dibangun pertama kali untuk membuang orang-orang yang terlibat dalam pemberintakan komunis tahun 1926. Selang sepuluh tahun kemudian, tokoh-tokoh pergerakan seperti Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir pun pernah dibuang ke Kamp Tanah Merah.

Kamp Tanah Merah di Digoel berada di tengah hutan belantara. Lokasi ini dinilai ideal sebagai penjara alam. Di samping itu juga diperuntukan menebar teror kehidupan serba sengsara dan penuh kebosanan bagi tokoh-tokoh intelektual lain yang mencoba melawan Belanda. Sampai tahun 1927, kamp ini menampung tidak kurang dari 1.200 orang.

Menurut laporan Tirto.id, orang yang bertanggung jawab membuka hutan dan mendirikan kamp di wilayah terasing itu adalah Kapten L Th. Becking. Sang Kapten sendiri konon disebutkan sampai geleng-geleng kepala sambil membantin, “pemerintah kolonial sungguh tidak punya rasa kemanusiaan menempatkan orang di tempat seperti ini.”

Boven Digoel mungkin memang terdengar asing dan menakutkan, tetapi tidak bisa ditampik bahwa tempat ini menjadi saksi perjalanan perjuangan bangsa Indonesia. Sayangnya, selepas kemerdekaan pun reputasi Tanah Merah sebagai tempat membuang orang tidak pernah luruh. Bahkan, kota ini sempat terlupakan seakan-akan tidak pernah ada.

Oleh karena nilai-nilai sejarah yang kental, keputusan pemerintah daerah menggali potensi wisata sejarah Boven Digoel rasanya sudah sangat tepat. Buat sobat yang gemar menggali kisah-kisah sejarah Indonesia yang terlupakan, Boven Digoel bisa menjadi tujuan wisata sejarah terbaru yang anti-mainstream.