Tidak Ada Kendaraan Selama Sebulan di Gunung Bromo

Bulan bebas kendaraan akan diberlakukan di kawasan objek wisata Gunung Bromo yang meliputi laut pasir, Gunung Bromo, sabana, dan sekitarnya. Pelaksanaan berlangsung 24 Januari hingga 24 Februari 2020.

Salah satu alasannya adalah demi menjadi langkah recovery (pemulihan) ekosistem alam di Bromo. Selain itu, bulan bebas kendaraan juga dilakukan demi menghormati momen “Wulan Kepitu” atau bulan ketujuh warga Suku Tengger.

Wulan kepitu bagi masyarakat Suku Tengger, merupakan bulan suci di mana biasanya para sesepuh Suku Tengger, melakukan “laku puasa mutih”. Tujuannya menahan perilaku atau sifat keduniawian, dengan lebih mendekatkan diri pada Tuhan Yang Maha Pencipta.

Kepala Seksi Pengelolaan Wisata Wilayah 1 TNBTS, Sarmin mengatakan, bulan bebas kendaraan merupakan bentuk penghormatan terhadap adat, budaya masyarakat Suku Tengger. Melalui bulan bebas kendaraan, juga bisa dimanfaatkan sebagai langkah pemulihan kondisi alam di Bromo.

“Di bulan bebas kendaraan, selain penghormatan masyarakat Tengger. di bulan itu, alam di Bromo bisa dipulihkan lagi. Jika sebelumnya rumput-rumput di sekitar Bromo atau sabana sempat rusak terinjak kendaraan, nantinya bisa tumbuh lagi,” Ujar Sarmin

Sarmin mengatakan, Gunung Bromo masih tetap dibuka saat bulan bebas kendaraan. Hanya saja, jika pengunjung ingin ke lautan pasir, sabana atau puncak Gunung Bromo hanya diperbolehkan dengan jalan kaki, sepeda, tandu ataupun naik ojek kuda.

Sebagai informasi, saat bulan bebas kendaraan diberlakukan, kendaraan tidak diperkenankan masuk ke kaldera Gunung Bromo. Pemberlakuannya di 4 pintu masuk, meliputi pintu masuk Coban Trisula, Kabupaten Malang dan pintu masuk Senduro, Kabupaten Lumajang di Jemplang, pintu masuk dari Cemoro Lawang, Kabupaten Probolinggo serta pintu masuk ke kawasan Gunung Penanjakan Wonokitri, Kabupaten Pasuruan di Pakis Bincil.